Kamis, 14 Januari 2016

 BAB II

TINJAUAN UMUM PENGEMBANGAN SISTEM


1 . Alasan pengembangan sistem
-          Adanya permasalahan-permasalahan yang timbul pada sistem lama. Permasalahan yang timbul dapat berupa :
     Ketidak beresan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem tersebut tidak dapat beroprasi sesuai dengan yang diharapkan.
      Pertumbuhan oragnisasi yang menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru.
-          Untuk meraih kesempatan-kesempatan (opportunities)
-          Adanya intruksi-intruksi (directives)
2. Prinsip Pengembangan sistem
-          Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen
-          Sistem yag dikembangkan  adalah investasi modal yang besar
-          Sistem yang dikembangkan memerlukan orang-orang yang terdidik
-          Tahapan kerja dan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam proses pengembangan sistem

  
3. Tahapan Pengembangan Sistem
Tahapan kerja dari pengembangan sistem
Penjelasan
Kebijakan dan perencanaan sistem :
Adanya instruksi dari top manajer kepada bawahan bahwa perusahaan tersebut perlu dilakukan pengembangan sistem. Di dalam perencanaan sistem perlu direncanakan terlebih dahulu mengenai :
-    -Berapa besar dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem
-    -Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem
-    -Sudah siapkah personil personil yang terlibat dalam pengembangan sistem tersebut

Analisis sistem :
Mengevaluasi permasalahan-permaslahan ,hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat di usulkan perbaikan-perbaikan.
Desain sistem secara umum :
Tujuan untuk memberikan gambaran secara umum kepada user tentang sistem yang baru.
Desain sistem secara terinci :
Tujuan untuk memberikan gambaran secara terperinci kepada user tentang sistem yang baru.
Seleksi sistem :
Menyeleksi penggunaan software maupun hardware di dalam penerapan sistem baru.
Implementasi sistem :
Menerapkan sistem informasi di dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Perawatan sistem :
Tujuannya adalah untuk menjaga agar sistem informasi dapat digunakan dalam organisasi tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama.

4. Metodologi Pengembangan Sistem
a. Metodologi Waterfall


Metodologi Waterfall merupakan model klasik yang sederhana dengan aliran sistem yang linier. Output dari setiap tahap merupakan input bagi tahap berikutnya. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Winston Royce tahun 1970, sekarang model ini lebih dikenal dengan Liner Sequential Model.

Karakteristik dari metodologi waterfall ini meliputi beberapa bagian, yaitu :
• Aktivitas mengalir dari satu fase ke fase lainnya secara berurutan.
• Setiap fase dikerjakan terlebih dahulu sampai selesai, jika sudah selesai baru mulai menuju fase berikutnya



Tahapan penelitian pada model waterfall meliputi metodologi berupa 


1. System Engineering
Menetapkan segala hal yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek 
2. Analisis 
Menganalisis hal-hal yang diperlukan untuk pembuatan atau pengembangan perangkat lunak
3. Design 
Tahap penerjemahan dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh programmer . Tiga atribut yang penting dalam proses perancangan yaitu : struktur data, arsitektur perangkat lunak dan prosedur rinci / algoritma.
4. Coding 
Menerjemahkan data yang telah dirancang / algoritma ke dalam bahasa pemrograman yang telah ditentukan
5. Testing 
Uji coba terhadap program telah dibuat .
6. Maintenance 
Perubahan atau penambahan program sesuai dengan permintaan user.


-Kelebihan dari metode WaterFall :


Metode ini masih lebih baik digunakan walaupun sudah tergolong kuno, daripada menggunakan pendekatan asal-asalan. Selain itu, metode ini juga masih masuk akal jika kebutuhan sudah diketahui dengan baik.

-Kekurangan dari metode Waterfall :
o Pada kenyataannya, jarang mengikuti urutan sekuensial seperti pada teori. Iterasi sering terjadi menyebabkan masalah baru.
o Sulit bagi pelanggan untuk menentukan semua kebutuhan secara eksplisit.
o Pelanggan harus sabar, karena pembuatan perangkat lunak akan dimulai ketika tahap desain sudah selesai. Sedangkan pada tahap sebelum desain bisa memakan waktu yang lama.
o Kesalahan di awal tahap berakibat sangat fatal pada tahap berikutnya.


b. Metodologi Prototipe


Model ini dikembangkan karena adanya kegagalan yang terjadi akibat pengembangan project / aplikasi menggunkan sistem waterfall. Kegagalan yang terjadi biasanya dikarenakan adanya kekurang pahaman atau bahkan sampai kesalah pahaman pengertian developer aplikasi mengenai user requirement yang ada.



Yang berbeda dari metodologi prototipe ini, apabila dibandingkan dengan waterfall, yaitu adanya pembuatan prototype dari sebuah aplikasi, sebelum aplikasi tersebut memasuki tahap design. Dalam fase ini, prototype yang telah dirancang oleh developer akan diberikan kepada user untuk mendapatkan dievaluasi. Tahap ini akan terus menerus diulang sampai kedua belah pihak benar-benar mengerti tentang requirement dari aplikasi yang akan dikembangkan. Apabila prototype telah selesai, maka tahapan aplikasi akan kembali berlanjut ke tahap design dan kembali mengikuti langkah-langkah pada waterfall model. Kekurangan dari tipe ini adalah tim developer pengembang aplikasi harus memiliki kemampuan yang baik karna dalam mengembangkan prototype ini hanya terdapat waktu yang singkat. Sebuah prototiping adalah sebuah sistem dalam fungsi yang sangat minimal.




  Gambar Prototyping Method






Tahapan Metodologi Prototipe :
1. Pengumpulan Kebutuhan dan perbaikan
Menetapkan segala kebutuhan untuk pembangunan perangkat lunak
2. Disain cepat 
Tahap penerjemahan dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh user.
3. Bentuk Prototipe 
Menerjemahkan data yang telah dirancang ke dalam bahasa pemrograman (Program contoh atau setengah jadi )
4. Evaluasi Pelanggan Terhadap Prototipe 
Program yang sudah jadi diuji oleh pelanggan, dan bila ada kekurangan pada program bisa ditambahkan.
5. Perbaikan Prototype 
Perbaikan program yang sudah jadi, sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemudian dibuat program kembali dan di evaluasi oleh konsumen sampai semua kebutuhan user terpenuhi.
6. Produk Rekayasa 
Program yang sudah jadi dan seluruh kebutuhan user sudah terpenuhi 


5. Pendekatan pengembangan sistem
1.       Pendekatan klasik lawan pendekatan terstruktur
(dipandang dari metodologi yang digunakan). Pendekatan klasik adalah pendekatan di dalam pengembangan sistem yang mengikuti tahapan-tahapan si systems life cycle tanpa dibekali dengan alat-alat dan teknik- teknik yang memadai. Sedangkan pada pendekatan terstruktur ilengkapi dengan alat-alat dan teknik-teknik supaya membuatnya berhasil.
2.       Pendakatan sepotong lawan pendekatan sistem
(dipandang dari sasaran yang akan di capai). Pendekatan sepotong merupakan pendekatan pengembangan sistem yang menekankan pada suatu kegiatan atau aplikasi tertentu saja. Sedangkan pada pendekatan sistem memperhatikan sistem informasi sebagai satu kesatuan terintregasi untuk masing-masing kegiatan atau aplikasinya.
3.       Pendekatan bawah-naik lawan pendekatan atas-turun
(dipandang dari cara menentukan kebutuhan dari sistem. Pendekatan bawah –naik di mulai dari level bawah organisasi, yaitu level operasional dimana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan-kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan ini disebut juga dengan analysis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang diolah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti data. Pendekatan atas- turun sebaliknya dimulai dari level atas organisasi,yaitu level perencanaan strategi. Pendekatan ini disebut juga dengan decision analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahulu. Kemudian data yang perlu diolah menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.
4.       Pendekatan sistem-menyeluruh lawan pendekatan moduler
(dipandang dari cara mengembangkannya). Pendekatan sistem-menyeluruh merupakan pendekatan yang mengembangkan sistem serentak secara menyeluruh. Sedangkan pendekatan moduler berusaha memecahkan sistem yang rumit menjadi beberapa bagian atau modul yang sederhana, sehingga sistem akan lebih mudah di pahami dan dikembangkan.
5.       Pendekatan lompatan jauh lawan pendekatan berkembang
(dipandang dari teknologi yang akan digunakan). Pendekatan lompatan jauh menerepakan perubahan meneyeluruh secara serentak menggunakan teknologi canggih. Sedangkan pendekatan berkembang menerapkan teknologi canggih hanya untuk aplikasi-aplikasi yang memerlukan saja pada saat itu saja.
6 . Alat dan teknik dalam pengembangan sistem
Alat-alat dalam Pengembangan Sistem


Untuk dapat melakukan langkah-langkah sesuai dengan metodologi pengembangan sistem maka dibutuhkan beberapa alat. Alat-alat yang digunakan biasanya berupa gambar atau diagram atau grafik.
Contohnya :
• HIPO diagram
• Data Flow diagram
• Structured chart
• SADT diagram
• Warnier/Orr diagram
• Jakson’s diagram
Diagram-diagram diatas digunakan untuk mengambarkan suatu metode tertentu, ada beberapa grafik yang lebih bersifat umum, antara lain :
• Bagan untuk menggambarkan aktifitas (activity charting), seperti : bagan alir sistem, bagan alis program, bagan alir kertas kerja, bagan alir hubungan database, bagan alir proses, dan Gantt chart.
• Bagan untuk menggambarkan tataletak
• Bagan untuk menggambarkan hubungan personil, seperti : Bagan distribusi kerja dan bagan organisasi.





Teknik yang Digunakan untuk Pengembangan Sistem
Teknik yang digunakan untuk pengembangan sistem antara lain :
• Teknik manajemen proyek, seperti CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program Evaluation and Review Technique). Teknik ini digunakan untuk penjadualan proyek.
• Teknik menemukan fakta, yaitu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan menemukan fakta-fakta dalam kegiatan mempelajari sistem yang ada. Contohnya : Teknik wawancara, observasi, daftar pertanyaan, pengumpulan sampel.
• Teknik analisis biaya/manfaat

• Teknik inspeksi/walkthrought

Tidak ada komentar:

Posting Komentar